Aspek Psikologis Dari Kesulitan Belajar

Aspek Psikologi Perkembangan dari Kesulitan Belajar

Aspek Psikologis Dari Kesulitan Belajar


Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, pola perkembangan ada dua yaitu, pola perkembangan yang bersifat umum dan bersifat individual. Pola perkembangan bersifat umum merupakan pola perkembangan manusia pada umumnya, yang sangat bermanfaat untuk menyusun program pendidikan atau kurikulum sekolah bagi anak normal. Sedangkan pola perkembangan bersifat individual adalah pola perkembangan yang berbeda-beda untuk tiap anak, yang bermanfaat untuk menyusun program pendidikan individual

Ada dua konsep yang perlu diperhatikan dalam aspek psikologi perkembangan yaitu kelambatan kematangan dan tahapan-tahapan perkembangan. Berdasarkan dua konsep tersebut, maka perlu dipahami implikasinya bagi upaya penanggulangan kesulitan belajar.

a. Kelambatan Kematangan

Ditinjau dari aspek psikologi perkembangan, kesulitan belajar disebabkan oleh adanya kelambatan kematangan dari suatu fungsi neurologis. Oleh karena itu, gejala kesulitan belajar tidak selayaknya dipandang sebagai disfungsi neurologis tetapi sebagai perbedaan laju perkembangan berbagai fungsi tersebut.

Konsep kelambatan kematangan memiliki pandangan bahwa kesulitan belajar tercipta karena anak didorong atau dipaksa oleh lingkungan sosial untuk mencapai kinerja akademik sebelum mereka siap. Pandangan tersebut juga sesuai dengan hasil penelitian Koppitz, yaitu anak berkesulitan belajar memerlukan waktu satu atau dua tahun lebih banyak daripada yang diperlukan oleh anak yang tidak berkesulitan belajar untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Selain itu, hasil penelitian Koppitz menunjukkan bahwa jika anak-anak berkesulitan belajar diberi waktu dan bantuan cukup mereka ternyata mampu mengerjakan tugas-tugas akademik secara baik menurut Lerner (1998 : 160).

Pandangan kelambatan kematangan juga didukung oleh hasil penelitian Silver dan Hagin bahwa anak-anak yang berkesulitan membaca dan memperoleh pendidikan khusus, setelah mereka berusia 16 hingga 24 tahun, banyak diantara mereka yang problema dalam membaca menghilang meskipun ada pula yang tetap.Pandangan lain yang dikemukakan oleh Samuel A. Kirk oleh Lerner (1998 : 169), bahwa ketika suatu fungsi mengalami kelambatan kematangan, anak berkesulitan belajar malah menghindari dan menarik diri dari aktivitas-aktivitas yang menuntut fungsi-fungsi yang menyenangkan.

Konsep kematangan mengemukakan bahwa penyebab utama kesulitan belajar adalah ketidakmatangan. Implikasi dari teori ini adalah bahwa anak-anak yang lebih muda, yaitu anak-anak yang dilahirkan sebelum atau dekat dengan tanggal dan bulan masuk sekolah, lebih banyak dinyatakan berkesulitan belajar daripada yang dilahirkan jauh sebelum tanggal dan bulan masuk sekolah. Fenomena semacam ini menurut Lerner (1998 : 170) disebut pengaruh tanggal lahir (birthdate effect).

b. Tahapan-tahapan Perkembangan

Tahapan-tahapan perkembangan yang paling erat kaitannya dengan kesulitan belajar di sekolah adalah tahapan-tahapan perkembangan kognitif. Penahapan perkembangan kognitif yang didasarkan atas umur dilakukan oleh Ginsburg dan Opper (Dirgagunarsa, 1998 : 123). Adapun tahap-tahap perkembangan kognitif tersebut adalah

1.      Tahap sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Pada tahap ini anak belajar melalui indera dan gerakan serta berinteraksi dengan lingkungan fisik. Melalui bergerak, meraba, memukul, menggigit, dan memanipulasi objek-objek secara fisik, anak belajar mengenai ruang, waktu, lokasi, ketetapan, dan sebab akibat. Sebagian dari anak-anak berkesulitan belajar sering memerlukan lebih banyak kesempatan untuk melakukan eksplorasi motorik semacam itu.

2.      Tahap praoperasional (usia 2-7 tahun)
Tahapan ini dibagi menjadi dua subtahap, yaitu subtahap berpikir prakonseptual (usia 2-4 tahun) dan subtahap berpikir intuitif (usia 4-7 tahun). Pada subtahap berpikir prakonseptual, anak telah menggunakan tanda atau simbol seperti yang dinamakan oleh Piaget sebagai fungsi simbolik.

Anak yang berkesulitan belajar pada subtahap berpikir prakonseptual menurut Piaget seperti yang dikutip oleh Joyse dan Weil (1998 : 108) belum dapat memusatkan perhatian pada dua dimensi yang berbeda secara bersamaan, maksudnya anak baru dapat menyusun benda-benda berdasarkan satu dimensi saja, misalnya dari segi panjangnya atau besarnya saja.

Pada subtahap berpikir intuitif, anak berkesulitan belajar belum mampu mengkonversi angka misalnya, anak diberikan dua deretan benda yang sama banyaknya mungkin anak akan mengatakan bahwa deretan yang satu lebih banyak daripada deretan yang lain karena deretannya lebih panjang. Hal ini menurut Piaget seperti dikutip oleh Gunarsa (1981 : 155) karena anak belum dapat memecahkan masalah konversi atau belum memahami konsep-konsep panjang-pendek, besar-kecil, jauh-dekat, banyak-sedikit, dan sebagainya, sehingga mereka memerlukan banyak bantuan dan latihan.

3.      Tahap konkret-operasional (usia 7-11 tahun)
Pada tahapan ini yang dapat dipikirkan oleh anak masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat dilihat dan diraba. Benda-benda yang tidak jelas dan tidak tampak dalam kenyataan, masih sulit dipikirkan oleh anak. Menurut Kohlberg dan Gilligan yang dikutip oleh Gunarsa (1981 : 164) bahwa kesulitan pelajaran matematika karena adanya upaya untuk mengajarkan kepada anak yang masih berada pada tahapan operasi konkret dengan materi yang abstrak.

4.      Tahap formal-operasional (usia 11 atau lebih)
Pada tahap ini anak telah mampu berpikir abstrak, menggunakan berbagai teori, menggunakan hubugan logis tanpa harus menunjuk pada hal-hal yang konkret, dan memungkinkan anak melakukan pemecahan berbagai masalah. Banyak anak berkesulitan belajar yang meskipun umurnya telah mencapai 11 tahun tetapi masih berada pada tahap operasi konkret. Mereka memerlukan banyak bantuan dan latihan agar memiliki landasan kuat untuk mencapai tahap operasi formal.ansisi dari suatu tahapan ke tahapan yang lain memerlukan kematangan. Menurut Piaget, tahapan-tahapan tersebut berurutan dan hierarkis. Anak hendaknya diberi kesempatan untuk memantapkan perilaku dan berpikir sesuai dengan tahapan-tahapan perkembangannya. Kegagalan anak di sekolah umumnya karena sekolah sering menuntut anak-anak menggunakan konsep-konsep abstrak dan logis dalam suatu bidang pelajaran tanpa memberikan kesempatan yang cukup kepada anak untuk melalui tahapan-tahapan pemahaman sebelumnya.

c.       Implikasi Teori Perkembangan Bagi Kesulitan Belajar
Teori perkembangan kematangan memiliki implikasi yang bermakna untuk memahami dan mengajar anak berkesulitan belajar. Teori tersebut mengemukakan bahwa kemampuan kognitif anak kualitatif berbeda dari orang dewasa. Kemampuan kognitif berkembang menurut cara yang berurutan yang tidak dapat diubah.

Implikasi penting dari pendekatan perkembangan kematangan adalah bahwa sekolah hendaknya merancang pengalaman belajar untuk mempertinggi kemantapan perkembangan alami. Dalam beberapa hal lingkungan pendidikan mungkin lebih banyak menghalangi daripada membantu perkembangan anak misalnya, sekolah membuat tuntutan intelektual yang melebihi tahapan perkembangan anak, maka kesulitan belajar akan terjadi. Tujuan penting dari sekolah seharusnya adalah memperkuat landasan berpikir anak yang dapat menjadi landasan belajar berikutnya.

2.2 Aspek Psikologi Behavioral dari Kesulitan Belajar
Psikologi behavioral memberikan sumbangan teori-teori penting untuk mengajar anak kesulitan belajar. Pusat perhatian teori-teori ini terutama pada tugas-tugas yang diajarkan dan analisis perilaku yang dibutuhkan untuk mempelajari tugas-tugas tersebut. Pembelajaran yang bertolak dari teori ini kadang-kadang disebut  pembelajaran langsung (direct instruction), tetapi ada pula yang menyebut belajar tuntas (mastery learning), pengajaran terarah (directed teaching), analisis tugas (task analysis), atau pengajaran keterampilan berutan (sequential skills teaching). Suatu rekomendasi yang didasarkan atas teori behavioral adalah bahwa guru hendaknya lebih memusatkan perhatian pada keterampilan-keterampilan akademik yang diperlukan oleh anak daripada memusatkan pada kekurangan yang menghambat anak untuk belajar.

a.      Analisis Perilaku dan Pembelajaran Langsung
Teori-teori behavioral menghendaki agar guru menganalisis tugas-tugas akademik yang berkenaan dengan berbagai keterampilan yang mendasari penyelesaian tugas-tugas tersebut. Berbagai keterampilan tersebut selanjutnya disusun dalam suatu aturan dan urutan logis, dan anak dievaluasi untuk menentukan keterampilan yang telah dikuasai dan yang belum dikuasai. Pembelajaran merupakan pemberian bantuan kepada anak untuk menguasai berbagai subketerampilan yang belum dikuasai. Pembelajaran semacam itu disebut pembelajaran langsung (direct instruction).

Ada tujuh langkah pembelajaran langsung yang menurut Lerner (1988 : 175) perlu diikuti :
  1. Merumuskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh anak.
  2. Menganalisis tujuan pembelajaran ke dalam tugas-tugas khusus.
  3. Menyusun tugas-tugas khusus tersebut ke dalam suatu urutan yang logis.
  4. Menentukan tugas-tugas khusus yang telah dan yang belum dikuasai anak.
  5. Mengajarkan tugas-tugas yang belum dikuasai oleh anak.
  6. Mengajarkan hanya satu tugas untuk waktu tertentu, dan baru mengajarkan tugas selanjutnya bila tugas sebelumnya telah dikuasai oleh anak.
  7. Melakukan evaluasi untuk menentukan keefektifan program pembelajaran.

Langkah-langkah dalam mengajarkan keterampilan berenang merupakan gambar dari pendekatan pembelajaran langsung. Pada mulanya guru melakukan observasi terhadap anak yang gagal berenang menyeberangi kolam. Berdasarkan hasil observasi tersebut guru menganalisis berbagai keterampilan yang diperlukan untuk berenang seperti mengapung di permukaan air, menahan napas pada saat menyelam, mengambil napas di permukaan air, meluncur, menggerakkan tangan kedepan secara bergantian, menggerakkan kaki secara lurus ke atas dan ke bawah, dan sebagainya. Berdasarkan hasil analisis keterampilan, selanjutnya guru mengajarkan berbagai keterampilan tersebut langkah demi langkah secara berurutan, membantu anak mengintegrasikan berbagai keterampilan, dan akhirnya melakukan observasi terhadap anak yang berenang menyeberangi kolam. Meskipun contoh tersebut bukan merupakan tugas akademik, prosedur yang sama dapat diterapkan dalam pengajaran akademik seperti membaca, menulis dan matematika.

b. Tahapan-tahapan Belaja

Ada empat tahap belajar yang perlu diperhatikan yaitu perolehan (acquisition), kecakapan (proficiency), pemeliharaan (maintenenance), dan generalisasi (generalization).

1.  Perolehan. Pada tahapan ini anak telah terbuka terhadap pengetahuan baru tetapi belum secara penuh memahaminya. Anak masih memerlukan banyak dorongan dan pengaruh dari guru untuk menggunakan pengetahuan tersebut. (Contoh, kepada anak diperlihatkan tabel perkalian lima dan konsepnya dijelaskan sehingga ia mulai memahaminya).

2. Kecakapan. Pada tahap ini anak mulai memahami pengetahuan atau keterampilan tetapi masih memerlukan banyak latihan. (Contoh, setelah anak memahami tabel dan konsep perkalian lima, ia diberi banyak latihan dalam bentuk menghafal atau menulis, dan diberi macam-macam ulangan penguatan).

3. Pemeliharaan. Anak dapat memelihara atau mempertahankan suatu kinerja taraf tinggi setelah pembelajaran langsung dan ulangan penguatan (reinforcement) dihilangkan. (Contoh, anak dapat menggunakan perkalian lima secara cepat tanpa memerlukan pengarahan dan ulangan penguatan dari guru).

4. Generalisasi. Pada tahap ini anak telah memiliki dan menginternalisasikan pengetahuan yang dipelajarinya sehingga ia dapat menerapkannya ke dalam berbagai situasi. (Contoh, anak dapat menerapkan tabel perkalian lima dalam memecahkan berbagai soal matematika).

Berbagai harapan dan rancangan pembelajaran yang berbeda diperlukan untuk tiap tahapan belajar. Jika guru menyadari tahapan belajar anak, mereka dapat menyediakan pembelajaran yang tepat untuk membantu anak bergerak dari suatu tahapan ke tahapan berikutnya. Anak berkesulitan belajar memerlukan banyak dukungan pada tiap tahapan belajar, mungkin melalui suatu tahapan tertentu dengan lambat, dan mungkin memerlukan bantuan khusus untuk berpindah ke tahapan selanjutnya, terutama tahapan generalisasi.

c. Implikasi Bagi Kesulitan Belajar
Ada beberapa implikasi teori behavioral bagi kesulitan belajar :

1. Pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang efektif
Guru perlu memahami cara melakukan analisis tugas-tugas dari suatu tujuan pembelajaran dan cara menyusun tugas-tugas tersebut secara berurutan. Bagi anak berkesulitan belajar merupakan hal yang sangat penting untuk memperoleh pembelajaran langsung dalam meneyelesaikan tugas-tugas akademik

2. Pendekatan pembelajaran langsung dapat digabungkan dengan berbagai pendekatan lain
Jika guru memiliki pengetahuan tentang kekhasan gaya belajar dan kesulitan belajar anak, pembelajaran langsung dapat menjadi lebih efektif  jika digabungkan dengan pendekatan yang didasarkan atas gaya belajar anak.

3. Tahapan belajar anak harus dipertimbangkan
Dalam merancang pembelajaran, tahapan belajar anak merupakan konsep yang sangat penting untuk dipahami dan dipertimbangkan oleh guru. Guru tidak dapat mengharapkan anak belajar secara sempurna pada awal anak diperkenalkan pada suatu bidang baru. Bagi anak berkesulitan belajar diperlukan usaha yang lebih banyak dari guru untuk membantu mereka melalui tahapan-tahapan belajar bila dibandingkan dengan anak yang tidak berkesulitan belajar.

2.3  Aspek Psikologi Kognitif dari Kesulitan Belajar

Psikologi kognitif berkenaan dengan proses belajar, berpikir, dan mengetahui. Kemampuan kognitif merupakan kelompok keterampilan mental yang esensial pada fungsi-fungsi kemanusiaan. Melalui kemampuan kognitif tersebut memungkinkan manusia mengetahui, menyadari, mengerti, menggunakan abstraksi, menalar, membahas, dan menjadi kreatif. Suatu analisis tentang sifat kognitif merupakan hal yang sangat penting untuk memahami kesulitan belajar. Salah satu teori psikologi kognitif yang membahas kesulitan belajar adalah yang dikenal dengan teori pemrosesan psikologis.

Proses psikologis merupakan kemampuan dalam persepsi, bahasa, ingatan, perhatian, pembentukan konsep (concept formation), pemecahan masalah, dan sebagainya (Lerner, 1988: 177). Implikasi dari teori gangguan dalam proses kognitif tersebut merupakan keterbatasan instrinsik yang dapat mengganggu proses belajar anak. Banyak dari gangguan dalam proses ini merupakan bidang-bidang praakademik atau yang bersifat perkembangan dari belajar.

Teori pemrosesan psikologis merupakan landasan awal dalam bidang kesulitan belajar dengan menghubungkan dalam pemrosesan psikologis dengan abnormalitas dalam sistem saraf pusat. Dalam mengaplikasikan teori tersebut ke dalam pembelajaran, kekurangan atau gangguan dalam persepsi auditoris dan visual memperoleh penekanan khusus. Teori ini telah menyediakan suatu landasan dalam melaksanakan asesmen dan program pembelajaran anak berkesulitan belajar.

Teori pemrosesan psikologis menganggap bahwa tiap anak berbeda dalam kemampuan mental yang mendasari mereka memproses dan menggunakan informasi, dan bahwa perbedaan tersebut mempengaruhi proses belajar anak. Kesulitan belajar dapat terjadi karena adanya kekurangan dalam fungsi pemrosesan psikologis. Dengan demikian, anak dengan disfungsi pemrosesan auditoris, misalnya, mungkin mengalami kesulitan dengan pendekatan pembelajaran yang menekankan kemampuan mendengar. Suatu hal yang sama adalah anak dengan disfungsi pemrosesan visual mungkin mengalami kesulitan dalam belajar membaca melalui metode yang mengutamakan kemampuan melihat. Dalam kegiatan pembelajaran, teori pemrosesan psikologis menyarankan agar setelah guru melakukan diagnosis kemampuan dan ketidakmampuan pemrosesan psikologis anak melalui observasi atau tes, mereka perlu membuat preskripsi atau “resep” metode pengajaran yang sesuai. Menurut Lerner (1988: 178) ada tiga rancangan pembelajaran yang berbeda yang berasal dari teori ini.
a. Melatih proses yang kurang
Kegunaan metode ini adalah untuk membantu anak membangun dan mengembangkan berbagai fungsi pemrosesan yang lemah melalui latihan. Rancangan pengajaran merupakan upaya untuk memperbaiki proses yang kurang atau memperbaiki ketidakmampuan dan menyiapkan anak untuk belajar lebih lanjut.

b. Mengajar melalui proses yang disukai
Pendekatan ini menggunakan modalitas kekuatan anak sebagai dasar strategi pembelajaran. Anak yang lebih menyukai modalitas pendengaran sebagai sarana untuk belajar diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada penggunaan indra pendengaran. Anak yang lebih menyukai modalitas gerak diajar melalui strategi pembelajaran yang mengutamakan gerakan. Metode pembelajaran yang menekankan pada modalitas pemrosesan yang disukai tersebut oleh Lerner (1988: 179) disebut aptitude-treatment-interaction.

c. Pendekatan kombinasi
Pendekatan pengajaran ketiga merupakan kombinasi dua pendekatan sebelumnya. Alasannya adalah, bahwa guru tidak hanya menekankan pada kekuatan pemrosesan tetapi juga secara bersamaan psikologis memberikan landasan yang berguna dalam bidang kesulitan belajar. Konsep tersebut juga memungkinkan guru untuk berupaya mengajar anak berkesulitan belajar meskipun untuk itu guru harus bekerja keras.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono. 2008. Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Terima Kasih atas kunjungan anda, jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan komentar atas postingan ini... 

1 Response to "Aspek Psikologis Dari Kesulitan Belajar"

Syarat-syarat Berkomentar:

Berkomentarlah Dengan Bahasa Yang Sopan;
Berkomentarlah Dengan Bijak;
Berkomentarlah Dengan Komentar Yang Berhubungan Dengan postingan Ini;
Dilarang Berkomentar Yang Berhunbungan Dengan PORNO/SARA
Dilarang Berkomentar SPAM

NB: Jika sahabat melanggar syarat-syarat diatas maka Komentar sahabat akan dihapus.

Terima Kasih.

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *