Elemen-elemen Pendidikan Inklusif

elemen pendidikan inklusif
Pendidikan inklusif akan dapat dipahami secara utuh jika setiap orang yang ingin mengimplementasikan pendidikan inklusif, memahami elemen yang perlu dilaksanakan. Elemen-elemen tersebut adalah:

A. Welcoming school
Welcoming school dimaknai sebagai sekolah yang ramah, terbuka dan menjadi sekolah yang siaga. Ramah  dimaksudkan sebuah sekolah menjadi tempat yang menyenangkan, nyaman, dan aman bagi setiap warga sekolah. Terbuka artinya setiap warga masyarakat (terutama masyarakat sekitarnya) bisa dan mudah mengakses sekolah sebagai tempat untuk belajar, tanpa ada diskriminasi. Siaga artinya sekolah menjadi tempat untuk meningkatkan sumber daya, mengatasi berbagai permasalahan, bahkan diharapkan bisa mengentaskan masyarakat dari keterpurukan masa depan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan agar sekolah mendapat predikat welcoming school antara lain:
  1. Peraturan sekolah yang ramah.
  2. Jemput bola dengan melakukan pendataan dan memotivasi masyarakat untuk bersekolah.
  3. Mempertimbangkan aksebilitas.
  4. Mempunyai tempat untuk aktivitas orang tua anak.
  5. Sekolah yang melindungi siswa dari bahaya kecelakaan, penculikan, peredaran narkoba, dan kekerasan.
  6. Sekolah yang mempertimbangkan kesehatan.

 B. Welcoming Teacher
Sampai saat ini profesi pendidik masih mendapat tempat yang mulia di tengah-tengah masyarakat, walaupun diyakini tidak sebaik pada zaman dahulu. Perkembangan zaman, termasuk perkembangan teknologi membuat pergeseran cara pandang masyarakat terhadap guru. Apapun pergeseran yang ada, profesi guru tetap harus ada, sebab guru menjadi jembatan peralihan generrasi ke generasi selanjutnya. Oleh karena itu guru dituntut kompetensinya. Setidaknya ada empat kompetensi  yang banyak dituntut oleh masyarakat, yaitu kompetensi keprbadian, kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, dan kompetensi sosial. Bahkan sejak zamannya Ki Hajar Dewantara, guru dituntut untuk “ing ngarsa sing tulada, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani”.

Munculnya paradikma pendidikan inklusif, selain kompetensi diatas, guru dipersyaratkan mempunyai predikat welcoming teacher. Welcoming Teacher dapat dimaknai menjadi guru yang ramah. Guru yang ramah bukan hanya berarti guru yang lemah lembut dan santun, akan tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu guru yang dapat memenuhi kebutuhan peserta  didik. Secara garis besar kebutuhan siswa dapat dibagi menjadi tiga ranah yaitu kebutuhan pengembangan kognitif, afektif dan psikomotor. Pendidikan seringkali mengabaikan kebutuhan afektif dan biasanya lebih menonjolkan kebutuhan pemenuhan kognitif, bahkan seriingkali guru tidak memahami akan kekuatan kognitif seseorang. Hal yang sering terjadi justru guru “memperkosa” kognitif anak.

Kebutuhan afektif anak antara lain kebutuhan akan rasa kasih sayang, harga diri, penghargaan dan sebagainya. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk menjadi guru yang berstatus “Welcoming Teacher” adalah:
  1. Guru harus mengetahui kondisi fisik maupun psikis peserta didik, termasuk kesehatan, inteligensi anak, sifat/karakter anak, dan sebagainya.
  2. Guru yang penolong, bukan guru yang mudah memberikan hukuman/pamisment.
  3. Guru yang tidak mempermalukan anak.
  4. Guru yang dapat mengatasi jika ada anak yang dipermalukan oleh anak lain.
  5. Guru yang empati terhadap hambatan belajar siswa.
  6. Guru yang sesegera mungkin berusaha mengatasi hambatan belajar siswa.
  7. Guru yang selalu memperhatikan perkembangan anak.
  8. Guru yang dapat menjalin hubungan baik dengan orang tua anak dan pihak-pihak lainnya.

 Inti dari guru yang ramah adalah guru yang sangat dinantikan kehadirannya oleh siswa. Jika guru tidak hadir maka siswa merasa ada sesuatu yang hilang. Simak contoh berikut ini sebagai gambaran menjadi guru yang ramah.

Jika anda seorang guru, anda bisa menganalisis apakah anda termasuk guru yang ramah (guru yang disenangi atau guru yang diharapkan kehadirannya oleh siswa) atau guru yang otoriter (guru ang galak/guru yang tidak disenangi atau guru yang tidak diharapkan kehadirannya oleh siswa), seperti contoh berikut.
Kepala sekolah memberitahu kedapa siswa kelas III SD, bahwa guru yang biasa mengajar (Ibu Siti Hamidah) tidak hadir karena sakit. Kepala sekolah berkata, “anak-anak, hari ini Ibu Siti Hamidah tidak hadir karena sakit....” Jika anak-anak bersorak gembira, maka bisa sebagai pertanda mungkin Bu Siti Hamidah tidak diharapkan kehadirannya, jika anak-anak mempertanyakan ketidakhadirannya dan merasa kehilangan, bisa dijadikan pertanda bahwa Ibu Siti Hamidah termasuk guru yang diharapkan kehadirannya (guru yang ramah).

Imam Yuwono & Utomo.2015.”Pendidikan Inklusif”.Banjarmasin:Pustaka Banua

0 Response to "Elemen-elemen Pendidikan Inklusif"

Post a Comment

Syarat-syarat Berkomentar:

Berkomentarlah Dengan Bahasa Yang Sopan;
Berkomentarlah Dengan Bijak;
Berkomentarlah Dengan Komentar Yang Berhubungan Dengan postingan Ini;
Dilarang Berkomentar Yang Berhunbungan Dengan PORNO/SARA
Dilarang Berkomentar SPAM

NB: Jika sahabat melanggar syarat-syarat diatas maka Komentar sahabat akan dihapus.

Terima Kasih.

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *