Meningkatkan Keterampilan Menulis Pengumuman Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair And Share (Tps) Divariasikan Dengan Strategi Peer Lessons Pada Siswa Kelas IV

Think Pair and Share kombinasi Strategi Peer Lessons

ABSTRACT

The research problem is the low results announcement learn writing skills in Grade 4 at SDN 1 Martapura Pasayangan of 19 students only 10 students who meet the minimum completeness criteria (KKM) 66, so that the individual completeness only 52.6% from 80% the specified mastery school. This is because learning involves students less full and the lack of interaction and support between teacher-student and student-student in the learning process. Thus, learning will be improved through action research through learning model Think Pair Share varied Peer Lessons strategy. The purpose of this study to increase the activity and student learning outcomes in learning Indonesian writing material announcement in the fourth class of SDN Pasayangan 1 Martapura.

This type of research is the Classroom Action Research (CAR) conducted by two sessions with each session consisting of two meetings. Setting the research is in the fourth class of SDN Pasayangan 1 Martapura the academic year 2015/2016, the number of students 22 people, consisting of 11 men and 11 women. The data collection is done by using the instrument in the form of grains of observations during the learning process, grain observation teacher and student activities implemented during the learning process and test questions

The results showed that with the application type model Think Pair Share and Peer Lessons strategy: (1) Activities of teachers at the first session got good criteria and in the second session got very good criteria. (2) Activities of students in the first session got quite active and criteria in the second session got active criteria. (3) Complete learn individually at the first session reached 56.65% increase in the second session be 86.35%, in the classical style in the first session 56.65% increase to 86.35% in the first session.

Based on these results it can be concluded that the announcement Writing Skills Through Cooperative Learning Model And Think Pair Share (TPS) is varied by Strategy Peer Lessons In the fourth class of SDN Pasayangan 1 Martapura increased significantly and the hypothesis is accepted. It is suggested to teachers in schools in order to use the model Think Pair And Share varied Peer Lessons strategy can be used as an alternative in the teaching of writing announcements

Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (1), diungkapkan yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (Mulyono, 2010: 48).

Pengertian tersebut mirip dengan pendapat G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap didalam kebiasaan, pemikiran, sikap-sikap, dan tingkah laku. Sejalan dengan pandangan tersebut, Crow and Crow (1960) mengemukakan: “harus diyakini bahwa fungsi utama pendidikan adalah bimbingan terhadap individu dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya ( Taufik, 2014: 3).

Proses pembelajaran adalah proses dimana anak didik menerima sebuah informasi baru yang disampaikan oleh orang yang memiliki pengetahuan yang lebih daripada anak didiknya. Proses pembelajaran mempengaruhi kepada hasil belajar yang akan dilihat dari sejauh mana siswa dapat menangkap dan menerapkan pembelajaran yang sudah diberikan (Susanto, 2014: 15).

Menurut R. Gagne (1989), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dua konsep ini menjadi terpadu dalam satu kegiatan dimana terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa pada saat pembelajaran berlangsung ( Susanto, 2014: 1).

Bagi Gagne, belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku. Selain itu, Gagne juga menekankan bahwa belajar sebagai suatu upaya untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan melalui intruksi. Intruksi yang dimaksud adalah perintah atau arahan dan bimbingan dari seorang pendidik atau guru ( Susanto, 2014: 1).

Pengertian hasil belajar sebagaimana dikemukakan oleh Nawawi dalam K. Brahim (2007: 39), yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu (Susanto, 2014: 5).

Proses belajar mengajar diharapkan dapat memberikan sesuatu yang bermakna bagi peserta didiknya, akan tetapi pada kenyataan dilapangan kadang kala proses pembelajaran selalu menitik beratkan pada pengembangan ranah kognitifnya saja, tanpa memperhatikan ranah psikomotorik dan afektifnya. Serta kurangnya penyajian materi dikaitkan kepada kehidupan langsung siswa, padahal kehidupan siswa itu adalah keadaan yang dihadapi siswa setiap saat. Pada akhirnya siswa hanya mengingat materi pelajaran secara singkat, tanpa pengimplementasian pada kehidupannya sendiri (Hamalik, 2010: 9).

Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di SD. Sebab, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia (Depdiknas, 2011).

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 menjelaskan tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VII Pasal 33 mengungkapkan bahwa, Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional, bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/ atau keterampilan tertentu, bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik (Depdiknas, 2009).

Pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama di sekolah dasar tidak dapat terlepas dari empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan berbahasa yang dilakukan manusia yang berupa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat dimodali dari kekayaan kosakata, yaitu aktivitas intelektual, karya otak manusia yang berpendidikan. Kita mengetahui kemampuan manusia berbahasa bukanlah instinct, tidak dibawa anak sejak lahir, melainkan manusia dapat belajar berbahasa untuk kebutuhan berkomunikasi (Susanto, 2013: 242).

Adapun untuk dapat menguasai Bahasa Indonesia dengan baik, ada beberapa keterampilan yang harus dimiliki dan dikembangkan. Setiap keterampilan itu, berhubungan erat sekali dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Apabila semua bisa dikuasai dengan baik oleh peserta didik akan berarti akan sangat mudah dalam belajar Bahasa Indonesia. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan, merupakan catur tunggal (Tarigan, 2008: 1).

Aspek keterampilan menulis adalah sebagai suatu proses, artinya kegiatan dapat dimulai dari menggerakkan pensil atau pena di atas kertas sampai terwujud sebuah karangan atau tulisan. Menulis sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya (Yunus, 2007: 1).

Apabila permasalahan yang sering terjadi tetap dibiarkan tanpa ada perbaikan pada proses pembelajaran, maka akan berdampak pada kebiasaan proses pembelajaran siswa itu sendiri, dan yang lebih fatal akan berdampak pada hasil belajarnya yang selalu rendah.

Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara memotivasi siswa dan bagaimana cara mengemas materi belajar agar motivasi siswa dapat dibangkitkan. Sehubungan dengan itu, dalam proses pembelajaran yang paling penting adalah, apa yang dipelajari peserta didik, bukan apa yang dikehendaki dan diajarkan oleh guru / fasilitator. Dengan kata lain, apa yang dipelajari oleh peserta didik merupakan kebutuhan, dan sesuai dengan kemampuan mereka, bukan kehendak yang ingin dicapai oleh guru / fasilitator.

Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu model pembelajaran yang mampu melibatkan peran serta siswa secara menyeluruh sehingga kegiatan belajar mengajar tidak hanya didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Selain itu, melalui pemilihan model pembelajaran tersebut diharapkan sumber informasi yang diterima siswa tidak hanya dari guru melainkan juga dapat meningkatkan peran serta dan keaktifan siswa dalam mempelajari dan menelaah ilmu yang ada terutama dalam kemampuan menulis pengumuman.

Adapun model pembelajaran kooperatif yang dianggap tepat oleh peneliti untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran membaca intensif untuk menemukan kalimat utama paragraf adalah variasi model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) Divariasikan dengan Strategi Peer Lessons.

Alasan dipilihnya model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) ini karena model ini mengutamakan pembelajaran kooperatif atau kerjasama kelompok sehingga siswa dapat saling berbagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berfikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Model ini memperkenalkan ide “waktu berfikir atau waktu tunggu” yang menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespons pertanyaan. Pembelajaran kooperatif model Think Pair and Share ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk mengatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuk berani untuk berpendapat dan menghargai pendapat orang lain (Shoimin, 2014: 208).

Model pembelajaran Think Pair and Share merupakan: “suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas, dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam Think Pair and Share (TPS) dapat memberi murid lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu” (Arends dalam Husaini, 2012: Online).

Strategi Peer Lesson (belajar dari teman) adalah salah satu strategi pembelajaran aktif yang sangat baik untuk menggairahkan kemauan peserta didik mengajarkan materi kepada temannya. Jika selama ini ada pameo yang mengatakan bahwa strategi belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu peserta didik di dalam mengajarkan materi kepada teman-teman sekelas (Zaini, 2008: 60).

Keunikan dari model pembelajaran ini adalah bahwa di dalam menyampaikan atau mengajarkan materi kepada yang lainnya dilakukan secara berkelompok. Berbeda dengan model sebelumnya di mana dalam menerangkan materi pelajaran pada yang lainnya dilakukan secara individu meskipun dibentuk kelompok-kelompok (Zaini, 2008: 60).

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang ditujukan untuk melakukan deskripsi dan analisis terhadap fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, persepsi dari setiap individu maupun pada kelompok tertentu. Penelitian jenis ini bersifat induktif, dimana data di lokasi riset akan menjadi sumber utama adanya fenomena dan permasalahan dalam proses pengamatan yang dilakukan (Susilo, 2010: 9).

Penelitian kualitatif melakukan penelitian dalam skala kecil, kelompok yang memiliki kekhususan, keunggulan, inovasi atau juga bermasalah. Kelompok yang diteliti merupakan satuan sosial-budaya yang saling berinteraksi secara individual atau kelompok. Kadang-kadang kelompok yang diteliti adalah sub kelompok yang memiliki kelainan atau perbedaan dengan kelompok besarnya, kelas yang lambat, mata pelajaran yang tidak disukai siswa atau prestasi belajarnya yang rendah (Sukmadinata, 2010: 99).

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Ciri utama pendekatan kuantitatif adalah penerapan prosedur kerja secara baku dan transfer data ke dalam angka-angka numerikal, khususnya yang menyangkut atribut dan kualitas subjek. Pendekatan kualitatif merupakan suatu pendekatan dalam melakukan penelitian yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami (Mahmud, 2011: 85-89).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu cara memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru, karena guru merupakan orang yang paling tahu segala sesuatu yang terjadi dalam pembelajaran (Mulyasa, 2010: 88).

Penelitian tindakan kelas atau istilah dalam bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR). Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung di dalamnya, yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas (Arikunto, 2012: 2).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, dan (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan pertisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat (Kusumah, 2012: 9).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu kegiatan penelitian ilmiah yang dilakukan secara rasional, sistematis, dan empiris reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru atau dosen (tenaga pendidik), kolaborasi (tim peneliti) yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi pembelajaran dilakukan (Iskandar, 2012: 21).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru selama siklus I dan siklus II pada penelitian tindakan kelas ini diketahui telah terjadi perbaikan aktivitas guru dalam melakukan pembelajaran matematika tentang pengurangan bilangan bulat melalui model Pembelajaran Langsung divariasikan dengan Think Pair and Share (TPS) dan Peer Lessons.

Dapat dikatakan bahwa aktivitas guru dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan kualitas pembelajaran, pada siklus I pertemuan 1 aktivitas guru memperoleh skor 22 meningkat pada pertemuan ke 2 aktivitas guru memperoleh skor 24 dan pada siklus II pertemuan 1 aktivitas guru memperoleh skor 26 dan terjadi peningkatan pada pertemuan 2 aktivitas guru memperoleh skor 28 dengan kategori Sangat Baik. Nilai minimal 8 dan maksimal 32.

Aspek yang mampu ditingkatkan oleh guru dalam pembelajaran dari siklus I ke siklus II yakni menyampaikan cakupan materi dan uraian kegiatan pembelajaran, guru menunjuk siswa secara acak untuk menjelaskan apa yang disampaikan guru, serta pada aspek guru menguji pemahaman siswa melalui presentasi kelas.

Berdasarkan data observasi yang dilakukan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari siklus I pertemuan 1 sampai siklus II pertemuan 2 ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini tidak terlepas dari ketepatan guru dalam memilih dan menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) divariasikan dengan Strategi Peer Lessons pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV. Pelaksanaan aktivitas guru mendapat kriteria sangat baik pada siklus II dikarenakan guru dapat mengatasi kekurangan-kekurangan yang sebelumnya guru lakukan dengan cara mempelajari rancangan kegiatan pembelajaran serta mengevaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Didalam model Think Pair and Share (TPS) guru mengarahkan perwakilan kelompok untuk mengambil materi tugas yang berbeda-beda untuk dikerjakan. Hal ini didukung teori yang dikemukakan oleh Arends dalam Komalasari (2011:64) yang mengatakan bahwa: “Think Pair Share (TPS) merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Variasi diskusi kelas disini adalah siswa diberi kesempatan belajar secara berpasangan (pairing) yang membantu mendorong koneksi antarsiswa. Hal ini terlihat dimana kelompok berpasangan berbagi (sharing) kepada teman sekelas untuk memaparkan hasil pemecahan masalah sehingga kemudian siswa lain memberikan tanggapannya dan terjadilah koneksi antarsiswa, sehingga dalam pembelajaran siswa aktif. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan (Sardiman, 2010:145).

Ini sejalan dengan pendapat (Zaini, 2008: 60), yang menyatakan bahwa Strategi Peer Lesson (belajar dari teman) sangat baik untuk menggairahkan kemauan peserta didik mengajarkan materi kepada temannya. Jika selama ini ada pameo yang mengatakan bahwa strategi belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu peserta didik di dalam mengajarkan materi kepada teman-teman sekelas.

Selaras dengan pendapat diatas Isjoni (2010: 62), Peran dan keaktifan seorang guru sangat penting dalam pembelajaran, efektifitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung pada peran guru. Guru harus selalu berusaha menfasilitasi atau menciptakan kondisi yang kondusif agar siswa dapat belajar secara aktif atas kesadaran dan kemauannya sendiri. Didalam memilih model pembelajaran, guru memfasilitasi tentang model think pair and share dengan media yang relevan. Sesuai dengan peran guru dalam pelaksanaan kooperatif menurut adalah peran guru adalah sebagai fasilitator.

Hal senada juga diungkapkan Brown dalam Sardiman (2010:144) bahwa “tugas guru dan peranan guru antara lain menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa”. Guru selalu berusaha meningkatkan kegairahan siswa dalam kegiatan belajar dengan menggunakan model tipe Think Pair Share variasi dengan strategi Peer Lessons, hal ini sejalan dengan peranan guru sebagai motivator seperti yang diungkapkan Sardiman (2010:145) bahwa “peranan guru sebagai motivator ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa”.

Hasil penilaian observasi aktivitas siswa oleh observer pada siklus I dikriteriakan cukup aktif, dikarenakan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih kurang, terlihat dimana sebagian kecil siswa ada yang tidak mengeluarkan alat tulisnya dengan lengkap dan membuka-buka buku paket mata pelajaran lain, selain itu siswa tidak serius dalam berdiskusi dimana masih saja berbicara hal-hal yang tidak berkaitan dengan diskusi sehingga jalannya diskusi kurang tertib, siswa yang tidak memperhatikan siswa yang maju dan memberikan pendapatnya ketika presentasi kelas. Kerjasama siswa dalam kelompok cukup serius karena masih ada kelompok yang nilainya belum berhasil tuntas dalam mengerjakan soal berpasangan.

Pada siklus II, hasil observasi aktivitas siswa dikriteriakan aktif. Hal ini dikarenakan, siswa lebih aktif dari pertemuan sebelumnya, kesiapan siswa mengikuti pembelajaran terlihat dimana siswa antusias dan mengeluarkan alat tulis mereka dengan lengkap, tidak ada lagi buku mata pelajaran lain di atas meja, kedisiplinan memperhatikan penjelasan guru, kerjasama siswa semakin terjalin dengan baik seperti saat bertukar pikiran dalam memecahkan masalah pada kegiatan berpasangan, memperhatikan siswa lain yang maju ke depan mempresentasikan hasil diskusi, selain itu siswa sudah mandiri dalam mengerjakan tugas dan semua kelompok berhasil mencapai ketuntasan.

Peningkatan aktivitas siswa ini dikarenakan peneliti mampu mengatasi kendala-kendala yang peneliti temukan dalam proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe think pair share variasi dengan strategi peer lessons dengan cara memberikan bimbingan dan mendorong siswa dalam meningkatkan semangat serta partisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran diimbangi dengan guru memberikan penguatan baik secara verbal dan non-verbal kepada siswa, agar mereka termotivasi. Selain itu, guru juga tetap menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share dengan strategi peer lessons.

Menurut (Susanto, 2014: 18-19), menyatakan bahwa pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar secara instruksional dilakukan oleh guru.

Belajar hanya akan terjadi apabila siswa aktif mengalami sendiri. John Dewey dalam Dimyati (2009:44) mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembeimbing dan pengarah. Guru sebagai pengarah yaitu jiwa kepemimpinan guru dalam peranan ini lebih menonjol. Melalui model tipe Think Pair Share variasi dengan strategi Peer Lessons guru telah membimbing dan mengarahkan siswa dalam kegiatan belajar, sehingga aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat mencapai kriteria sangat aktif.

Arends dalam Komalasari (2011:64) yang mengatakan bahwa: “Think Pair Share (TPS) merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Variasi diskusi kelas disini adalah siswa diberi kesempatan belajar secara berpasangan (pairing) yang membantu mendorong koneksi antarsiswa. Hal ini terlihat dimana kelompok berpasangan berbagi (sharing) kepada teman sekelas untuk memaparkan hasil pemecahan masalah sehingga kemudian siswa lain memberikan tanggapannya dan terjadilah koneksi antarsiswa, sehingga dalam pembelajaran siswa aktif. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan (Sardiman, 2010:145). Ini sejalan dengan pendapat (Zaini, 2008: 60), yang menyatakan bahwa Strategi Peer Lesson (belajar dari teman) sangat baik untuk menggairahkan kemauan peserta didik mengajarkan materi kepada temannya. Jika selama ini ada pameo yang mengatakan bahwa strategi belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu peserta didik di dalam mengajarkan materi kepada teman-teman sekelas.

Dari hasil analisis data yang telah dipaparkan sebelumya pada bagian terdahulu diketahui bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair And Share (TPS) divariasikan dengan strategi Peer Lessons maka persentase belajar siswa dapat meningkat.

Hasil belajar menurut sudjana (2012:Online) merupakan suatu kompetensi atau kecakapan yang dapat dicapai oleh siswa setelah melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru di suatu sekolah dan kelas tertentu. Pelaksanakan penelitian tindakan kelas dari setiap akhir siklus guru memberikan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa menguasai materi pelajaran.

Hasil belajar mengalami peningkatan karena anak dibawa aktif saling memikirkan (thinking) untuk mencari hasil jawaban soal bersama pasangannya (pairing) sehingga mereka saling belajar dan berbagi ide (sharing). Hal ini sesuai dengan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS menurut Hartina (2008: 12). Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang. Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.

Model pembelajaran Think Pair and Share (TPS) adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berfikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Model ini memperkenalkan ide “waktu berfikir atau waktu tunggu” yang menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespons pertanyaan. Pembelajaran kooperatif model Think Pair and Share ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk mengatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuk berani untuk berpendapat dan menghargai pendapat orang lain (Shoimin, 2014: 208).

Peningkatan pada hasil belajar siswa juga terjadi karena guru tidak hanya melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah saja, tapi juga dengan diskusi kelompok, dimana dalam diskusi kelompok tersebut siswa dituntut agar bisa saling bekerjasama dan bertukar ide dengan pasangannya untuk memecahkan permasalahan yang telah guru ajukan. Ini sejalan dengan pendapat (Zaini, 2008: 60), yang menyatakan bahwa strategi Peer Lessons memiliki keunikan bahwa di dalam menyampaikan atau mengajarkan materi kepada yang lainnya dilakukan secara berkelompok. Berbeda dengan model sebelumnya di mana dalam menerangkan materi pelajaran pada yang lainnya dilakukan secara individu meskipun dibentuk kelompok-kelompok.

Proses pembelajaran dalam bentuk kelompok ini sejalan dengan tujuan pembelajaran kooperatif yang dikemukan oleh Johnson & Johnson dalam Trianto (2011:57) bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.

Erikson (2013:Online) mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar. Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Hal ini menunjukkan setiap siswa ingin berprestasi untuk meraih hasil belajar yang maksimal.

Namun dorongan belajar itu menurut Skinner (Dimyati, 2009:48) tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan, atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar, implikasi ini terlihat dari hasil belajar yang disampaikan guru sehingga siswa belajar dengan semangat dan dapat melebihi ketuntasan klasikal yang ditetapkan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan melalui pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang Menulis Pengumuman melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) divariasikan dengan strategi Peer Lessons di kelas IV SDN Pasayangan 1 Martapura dapat disimpulkan sebagai berikut:

Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) divariasikan dengan strategi Peer Lessons terjadi peningkatan dan mencapai kriteria sangat baik.

Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran secara klasikal baik kelompok maupun individu yang dilakukan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) divariasikan dengan strategi Peer Lessons mencapai kriteria sangat aktif.

Hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) divariasikan dengan strategi Peer Lessons dilihat dari ketuntasan klasikal siswa terjadi peningkatan, yaitu 90,09% siswa mencapai ketuntasan dengan nilai 70. 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdiknas. 2006. Kapita Selekta Pembelajaran. Banjarmasin: Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. 2009. Peraturan Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2009 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan.
Depdiknas. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Dimyati dan Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hamalik, O. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Sinar Grafika.

Iskandar. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Referensi.
Kusumah, Wijaya, Dedi Dwitagama. 2012. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Indeks.
Mahmud. 2011. Metode Pendidikan. Bandung: CV PUSTAKA SETIA.
Mulyasa, E. 2010. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Mulyono, 2010. Konsep Pembiayaan Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Sukmadinata, Nana. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Susanto, Ahmad. 2014. Pengembangan Pembelajaran IPS. Jakarta: Prenadamedia Group.
Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Susilo, Wilhelmus Hary. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta : Susilo & Ivy.
Tarigan, H.G. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Taufik, Agus. 2014. Hakikat Pendidikan. Jakarta: PT.Citra Aksara.
Trianto. 2012. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: Prestasi Belajar.
Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Yunus, M. 2007. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.

0 Response to "Meningkatkan Keterampilan Menulis Pengumuman Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair And Share (Tps) Divariasikan Dengan Strategi Peer Lessons Pada Siswa Kelas IV"

Post a Comment

Syarat-syarat Berkomentar:

Berkomentarlah Dengan Bahasa Yang Sopan;
Berkomentarlah Dengan Bijak;
Berkomentarlah Dengan Komentar Yang Berhubungan Dengan postingan Ini;
Dilarang Berkomentar Yang Berhunbungan Dengan PORNO/SARA
Dilarang Berkomentar SPAM

NB: Jika sahabat melanggar syarat-syarat diatas maka Komentar sahabat akan dihapus.

Terima Kasih.

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *