Dimensi-dimensi Hakikat Manusia serta Potensi, Keunikan, dan Dinamikanya

Table of Contents
Dimensi Keindividualan

Dikatakan oleh Lyson bahwa individu adalah orang seorang, sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in devide). Selanjutnya individu diartikan juga sebagai sebagai pribadi (Lysen, Individu dan Masyarakat: 4). Setiap anak manusia yang dilahirkan ke dunia ini sebenarnya telah memiliki potensi. Potensi yang dimaksud menurut penulis seperti yang dikemukakan oleh Gardner. Ia menyatakan bahwa manusia memiliki tujuh kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestik tubuh, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intra personal (Campbel, dkk., 2006: 2-3). Kecerdasan-kecerdasan ini yang selanjutnya kita sebut sebagai potensi tentu saja tidak sama dimiliki oleh setiap individu. Ada individu yang memiliki kelebihan dalam hal kebahasaan, tetapi kurang pintar dalam hal musik, ada individu yang lebih pintar matematika, tetapi tidak pintar tentang kebahasaan. Oleh karena itu, setiap individu tidak boleh diperlakukan sama. Mereka ingin terlihat berbeda dengan yang lain atau menjadi seperti dirinya sendiri. Tidak ada diri individu yang identik di muka bumi ini.

Penulis sangat setuju dengan dimensi keindividualan seperti yang telah diungkapkan di atas. Memang benar bahwa tidak ada manusia yang identik dengan manusia lain di atas permukaan bumi ini. Bahkan, anak yang terlahir kembar pun pada hakikatnya tidak memiliki karakter yang persis sama. Dengan kata lain, masing-masing ingin mempertahankan kekhasannya sendiri. Kekhasan yang dimaksud ini seperti kekhasan dalam cita-cita, cara belajar, cara menghadapi dan menyelesaikan masalah, cara berinteraksi dengan orang lain. Karena adanya kekhasan yang dimiliki oleh setiap manusia ini, dalam proses pembelajaran kekhasan ini tentu harus diperhatikan oleh peserta didik. Tenaga pendidik tidak dapat boleh memaksakan kehendaknya kepada kepada subjek didik.

Menurut penulis, memang usaha untuk memperhatikan peserta didik berdasarkan kekhasan yang dimilikinya merupakan usaha yang baik. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah apa keterkaitan dimensi keindividuan dengan pendidikan? bagaimana cara mengimplementasikan hal ini dalam pembelajaran? Sebagai contoh, apa yang harus dilakukan terhadap anak didik yang tidak suka pelajaran bahasa Indonesia saat materi bahasa Indonesia diajarkan oleh tenaga pendidik? Apakah anak didik tersebut diminta oleh gurunya untuk keluar atau diam saja? Pertanyaan seperti ini tampaknya sering dihadapi oleh peserta didik. Contoh lain disebutkan, misalnya, anak didik memiliki berbagai gaya belajar. Ada anak didik yang mudah belajar kalau hanya dengan berdiskusi bersama-teman-teman-teman sekelas, ada anak didik yang mudah belajar hanya dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya, ada anak didik yang mudah belajar dengan cara langsung mempraktikkan, ada pula anak didik yang mudah belajar hanya dengan membaca buku. Bagaimanakah gaya belajar yang bervariasi ini dapat diatasi oleh pendidik dalam suatu proses pembelajaran? Hal seperti ini tampaknya perlu untuk dikaji secara spesifik.

Dimensi Kesosialan

Setiap anak yang dilahirkan memiliki potensi sosialitas. Artinya, mereka dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul ini, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Betapa kuatnya dorongan tersebut sehingga penjara merupakan hukuman yang paling berat dirasakan oleh setiap manusia karena dengan diasingkan di dalam penjara berarti diputuskannya dorongan bergaul itu secara mutlak.

Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampat lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorogan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Seseorang dapat mengembangkan kegemarannya, sikapnya, cita-citanya di dalam interaksi dengan sesamanya. Seorang berkesempatan untuk belajar dari orang lain, mengidentifikasi sifat-sifat yang di kagumi dari orang lain untuk dimilikinya, serta menolak sifat yang tidak di cocokinya. Hanya di dalam berinteraksi dengan sesamanya, dalam saling menerima dan memberi, seseorang menyadari dan menghayati kemanusiaanya.

Dimensi Kesusilaan

Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Akan tetapi, di dalam kehidupan bermasyarakat, orang tidak cukup hanya dengan berbuat yang pantas jika di dalam yang pantas atau sopan itu terkandung kejahatan terselubung. Oleh karena itu, pengertian susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi kebaikan yang lebih. Dalam bahasa ilmiah sering digunakan sering digunakan istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu etiket (persoalan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang berbuat jahat berarti melanggar hak orang lain dan dikatakan tidak beretika dan tidak bermoral, sedangkan tidak sopan diartikan sebagai tidak beretiket. Jika etika dilanggar ada orang lain yang merasa dirugikan, sedangkan pelanggaran etiket hanya mengakibatkan ketidaksenangan orang lain.

Susila sebenarnya mencakup etika dan etiket. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Nilai yang dimaksud dapat berupa nilai otonom, nilai heteronom, nilai keagamaan.

Baca: Pengertian Sifat Hakikat Manusia

Dalam kenyataan hidup, ada dua hal yang muncul dari persoalan nilai, yaitu kesadaran dan pemahaman terhadap nilai dan kesanggupan melaksanakan nilai. Dalam pelaksanaannya, keduanya harus dulaksanakan secara sinkron.

Dimensi Keberagamaan

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk beragama. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Manusia memerlukan agama untuk keselamatan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa agama menjadi sandaran vertikal manusia. Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan manusia. Pemerintah dengan berlandaskan pada GBHN memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum di sekolah mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi.

Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia

a. Pengembangan yang utuh
Pengembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua faktor, yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya.

b. Pengembangan yang Tidak Utuh Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsur dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk ditangani.

Sosok Manusia Indonesia Seutuhnya

Pengertian sosok manusia Indonesia seutuhnya ini adalah perpaduan antara aspek jasmani dan rohani, antara dimensi keindividualan, kesosialan, kesusilaan, keberagamaan, antara aspek kognitif, afektif, psikomotor (Tirta Raharja dan Sulo, 2006:25). Pengertian tentang sosok manusia Indonesia seutuhnya ini tampaknya sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003:7).

Kesimpulan

Manusia sangat jelas berbeda dengan hewan. Hal ini dapat dilihat melalui wujud sifat hakikat manusia, yaitu kemampuan menyadari diri, kemampuan bereksistensi, kepemilikan kata hati, moral, tanggung jawab, rasa kebebasan, kewajiban dan hak, kemampuan menghayati kebahagiaan, kemampuan berbahasa. Ditilik dari segi lain, manusia ternyata memiliki dimensi-dimensi yang meliputi dimensi individual, sosial, susila, dan agama. Dalam suatu proses pembelajaran, baik wujud sifat hakikat manusia maupun dimensi-dimensi manusia yang telah dimiliki oleh setiap peserta didik perlu dikembangkan. Tujuannya tentu saja agar mereka lebih tahu eksistensi mereka di atas permukaan bumi ini dan agar mereka lebih tahu bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang pada hakikatnya berbeda dengan makhluk yang lain sehingga akan terlahir manusia Indonesia seutuhnya seperti yang diinginkan masyarakat, bangsa, dan agama.

Post a Comment