Optimalisasi Kemampuan Membaca Melalui Gerakan Literasi Sekolah

Table of Contents
minat baca, sudut buku, pojok cara, meningkatkan minat baca
Pojok Baca - Gerakan Literasi Sekolah




Latar Belakakang
Dalam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara sebagai mana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlunya dibangun karakter Aparatur Sipil Negara yang memiliki integritas, profesionalisme, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa yang tertuang dalam UU Ke 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

Guru sebagai Pegawai Negeri Sipil yang merupakan bagian dari ASN harus mampu berperan sebagai pelayan publik (peserta didik). Tugas ASN sebagai pelayan publik meliputi beberapa bidang termasuk di dalamnya adalah bidang pendidikan. Guru sebagai salah satu profesi PNS harus dilandasi oleh nilai-nilai dasar akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti korupsi untuk mengaktualisasikan tugas pokok dan fungsinya sesuai yang tercantum dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negeri (ASN).

Pengembangan sistem pendidikan nasional merupakan salah satu faktor utama dalam menilai keberhasilan pembangunan sebuah negara. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam menjamin keberlangsungan pembangunan suatu bangsa. Sehubungan dengan itu, Susanto (2014) menjelaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu instrumen utama pengembangan SDM, tenaga pendidik dalam hai ini guru sebagai salah satu unsur yang berperan penting di dalamnya.

Suriansyah (2013:1) mengatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat berpengaruh terhadap gaya hidup, sosial dan ekonomi sehingga selalu mengalami perubahan yang tingkat akselerasinya juga semakin cepat. Perubahan masyarakat industri ke masyarakat infomasi telah menimbulkan dampak terhadap permintaan atas program baru pendidikan, khususnya tuntutan kualitas pendidikan menjadi sangat besar dari masyarakat.

Budaya literasi di Indonesia menjadi persoalan yang sangat menarik untuk diperbincangkan khususnya dikalangan peserta didik. Di tengah melesatnya budaya populer, buku tidak lagi menjadi prioritas utama. Peserta didik cenderung lebih senang menonton, bermain, mengikuti siaran televisi, bahkan untuk siswa di pedalaman mereka lebih banyak ikut orang tua bekerja ketimbang membaca. Buku pelajaran tak lagi menjadi teman setia siswa saat ini.

Budaya membaca, menulis dan berdiskusi tak lagi menjadi ciri khas pelajar yang konon disebut sebagai generasi penerus bangsa. Padahal ada pepatah yang mengungkapkan bahwa buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. Oleh sebab itu, perlu dibudayakan membaca dalam lingkungan masyarakat khususnya di lingkungan sekolah. Budaya membaca di sekolah perlu dikembangkan agar siswa dapat membiasakan diri untuk membaca. Untuk melaksanakan pembiasaan ini tidak hanya dari peserta didik saja, namun perlu dilakukan juga oleh beberapa pihak seperti guru, orangtua, dan pemerintah.

Kegiatan menumbuhkan minat membaca khususnya di sekolah guru memiliki peran yang sangat penting. Sebagai Agent of change tugas dan tanggungjawab guru yaitu mengarahkan atau membentuk prilaku dan akhlak peserta didik agar menjadi lebih baik. Dalam konteks kegiatan literasi, guru sebagai fasilitator sekaligus menjadi subjek dan memiliki fungsi-fungsi yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Sebagai ASN yang baik, posisi guru tidak hanya dituntut untuk hadir di kelas, tetapi guru harus berperan dalam menentukan nasib bangsa dimasa depan.

Praktik pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran agar semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mendukungnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS) yang melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur eksternal dan unsur publik, yakni orang tua peserta didik, alumni, masyarakat, dunia usaha dan industri juga menjadi komponen penting dalam GLS. GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir Nawacita tersebut terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis (Faizah, 2015:1).

Oleh karena itu, dalam membangun budaya literasi guru dan orang tua harus memberikan motivasi dan kesadaran pentingnya literasi dengan melakukan pengawasan dan penanaman kebiasaan membaca dan menulis. Yang paling penting dalam membangun budaya literasi adalah perlu adanya kesadaran diri sendiri dengan membiasakan kegiatan membaca dan menulis.

Kenyataannya, Permendikbud No. 23 Tahun 2015 belum terlaksana dengan optimal, kemampuan membaca di kalangan peserta didik khususnya di SDN 4 Kindingan saat ini sangatlah rendah, siswa kelas tinggi ada yang belum lancar membaca. Sehingga kurangnya pengetahuan umum maupun sosial bagi siswa. Selain itu keberadaan sumber belajar yang masih minim membuat siswa sulit mengembangkan minatnya untuk membaca buku. Oleh karena itu, perlu diciptakannya strategi khusus untuk meningkatkan kemampuan membaca pada siswa. Salah satunya, dengan melakukan gerakan literasi sekolah. Berdasarkan uraian yang dijelaskan di atas, maka sebagai guru yang merupakan salah satu unsur ASN dianggap perlu untuk melakukan upaya aktualisasi dalam rangka optimalisasi kemampuan membaca peserta didik khususnya di SDN 4 Kindingan.

Tujuan

Tujuan Umum

Selama kegiatan aktualisasi dan habituasi di instansi kerja, peserta pelatihan dasar CPNS diharapkan mampu :
  1. Menerapkan sikap prilaku dan disiplin PNS;
  2. Menerapkan nilai –nilai dasar PNS (Akuntabilitas, Nasonalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi); dan
  3. Menerapkan nilai – nilai dari kedudukan dan peran PNS (Manajemen ASN, Whole of Government dan Pelayanan Publik).
Tujuan Khusus
Adapun tujuan gerakan literasi sekolah yaitu:
  1. Menciptakan ekosistem sekolah yang literat;
  2. Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah;
  3. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan;
  4. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik dalam mengambil kesimpulan;
  5. Menumbuhkan dan mengembangkan sikap empati, peduli, dan menghargai sesama;
  6. Meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang sehingga lebih bermanfaat;
  7. Menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan; dan
  8. Memampukan peserta didik untuk cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya.

Identifikasi Isu dan Core Isu
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi sebagai guru, dapat digambarkan isu-isu strategis dan permasalahan yang mendesak dan harus diselesaikan/dipecahkan dalam organisasi SDN 4 Kindingan. Adapun permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Belum optimalnya kemampuan membaca siswa kelas VI SDN 4 Kindingan Kabupatan Hulu Sungai Tengah,
  2. Rendahnya aktivitas siswa dalam membuka dan membaca buku pada siswa kelas VI SDN 4 Kindingan Kabupatan Hulu Sungai Tengah,
  3. Kurangnya pengetahuan umum maupun sosial siswa kelas VI SDN 4 Kindingan Kabupatan Hulu Sungai Tengah,
  4. Kurangnya keberadaan sumber belajar siswa kelas VI SDN 4 Kindingan Kabupatan Hulu Sungai Tengah.
Identifikasi isu-isu utama yang akan diangkat penulis menggunakan metode APKL (aktual, problematis, kekhayalakan, kelayakan). Berdasarkan metode USG (Urgency, seriousness, Growth). Maka penulis mengambil isu “Belum optimalnya kemampuan membaca siswa kelas VI SDN 4 Kindingan Kabupatan Hulu Sungai Tengah”. Selanjutnya untuk mengatasi permasalahan tersebut maka penulis mengambil judul rancangan aktualisasi “Optimalisasi Kemampuan Membaca Melalui Gerakan Literasi Sekolah pada Siswa Kelas VI SDN 4 Kindingan Kabupaten Hulu Sungai Tengah”.

Ruang Lingkup

Rancangan kegiatan aktualisasi dilaksanakan di SDN 4 Kindingan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, yang berfokus pada tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) meliputi pekerjaan yang diakukan oleh guru kelas menerapkan nilai-nilai akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi sebagai Aparatur Sipil Negara.

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada aktualisasi dalam pemecahan masalah “Belum optimalnya kemampuan membaca siswa kelas VI SDN 4 Kindingan Kabupatan Hulu Sungai Tengah” yaitu:
  1. Membuat sudut buku dan area baca di kelas
  2. Membuat pohon literasi
  3. Kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 Tahun 2015)
  4. Tugas baca
  5. Pemberdayaan mading kelas
  6. Posterisasi kelas
BAB II s.d BAB V klik Di sini

Post a Comment