Implementasi Prinsip-Prinsip Universal Design For Learning (UDL) Di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi

 A. Pengantar 

Inklusif merupakan filosofi hidup dengan keberagaman. Filosofi ini memandu kita untuk hidup dalam keberagaman, belajar dari keberagaman dan terus mencari cara-cara terbaik untuk merespon terhadap keberagaman. Dalam filosofi ini, keberagaman bukan dianggap sebagai sebuah penghambat, namun merupakan sebuah pendorong kesuksesan untuk semua.

Setidaknya terdapat empat prinsip utama ketika filosofi ini diterapkan dalam praktik pendidikan inklusif. Pertama, menyedikan kurikulum yang menantang, menarik dan fleklsibel bagi semua peserta didik; Kedua, merangkul keberagaman dan responsif terhadap potensi dan tantangan dari setiap individu; Ketiga menggunakan praktik reflektif dan pembelajaran berdiferensiasi; dan Keempat membangun komunitas yang didasarkan pada kolaborasi antara peserta didik, guru, keluarga, professional dan lembaga masyarakat (Salend, 2011).

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif (SPPI) memiliki keragaman peserta didik baik dalam potensi, tantangan maupun kebutuhannya. Tentu saja hal ini menjadi stimulus yang positif bagi para guru di SPPI untuk terus dapat mengembangkan rencana pembelajaran yang lebih efektif guna mengakomodasi keberagaman di kelasnya. Universal Design for Learning (UDL) atau desain universal untuk pembelajaran adalah sebuah kerangka perencanaan pembelajaran yang dapat meningkatkan akses yang bermakna dan mengurangi hambatan belajar peserta didik dengan kebutuhan belajar yang beragam, termasuk, peserta didik penyandang disabilitas. UDL menekankan pada pembejalaran yang fleksibel, bermakana dan keterlibatan. Oleh karenanya, UDL dapat dijadikan sebagai kerangka kerja bagi guru dalam menyusun rencana pembelajaran di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.

B. Desain Universal 

Desain universal adalah desain dan komposisi suatu lingkungan sehingga dapat diakses, dipahami, dan digunakan semaksimal mungkin oleh semua orang tanpa memandang usia, ukuran, kemampuan, atau kecacatannya (Otoritas Disabilitas Nasional, 2019). Para arsitek dalam mendesain sebuah bangunan modern begitu sangat memperhatikan kebutuhan penggunanya yaitu dengan cara mempertimbangkan 3 hal berikut yaitu: 1) dapat digunakan; 2) dapat diakses dan 3) inklusif.

Universal Design For Learning (Udl)

Konsep desain universal awalnya digunakan dalam bidang ilmu arsitektur. Dimana para arsitek dalam mendesain lift, tangga, ataupun yang lainnya berdasarkan pada tiga prinsip tersebut agar dapat mengakomodasi orang yang memiliki hambatan dalam mobilitas. Ternyata, hal ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang memiliki keterbatasan, tapi berguna juga bagi para pengguna lainnya.
Universal Design For Learning (UDL)
Dalam menerapkan desain universal ada 3 tahapan yang biasanya harus dilalui yaitu berupa advokasi, akomodasi, dan aksesibilitas (Schwanke, Smith & Edyburn, 2001). Tahap Advokasi yaitu tahapan dalam upaya meningkatkan kesadaran akan adanya kebutuhan yang beragam dan memotivasi kita untuk melakukan perubahan. Tahap akomodasi merupakan tapan pemberian dukungan terhadap individu sesuai dengan kebutuhan atau permintaan. Sedangkan tahap aksesibilitas merupakan tahapan dimana tercapainya lingkungan yang telah direkayasa dan dapat digunakan oleh semua orang pada saat dibutuhkan.

C. Universal Design for Learning (UDL) 

Konsep desain universal ini kemuadian dikembangkan oleh para pendidik di di Center for Applied Special Technology (CAST) di Harvard untuk pembelajaran. CAST membantu guru dalam mengevaluasi kurikulum, menemukan hambatan dan memberikan dukungan untuk semua peserta didik. Ternyata seperti dalam bidang arsitektur, desain universal yang diimplemtasikan dalam pendidikan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik yang rentan “terpinggirkan” namun juga bagi banyak peserta didik lainnya. 

1. Apa yang menjadi dasar UDL? 

UDL dikembangkan berdasarkan pada penelitian dalam ilmu neurologi, psikologi perkembangan, dan keberagaman cara belajar (Rose & Gravel, 2010). Penelitian telah mengkonfirmasi keberadaan tiga jaringan otak terlibat dalam pembelajaran yaitu jaringan affective, recognition, dan strategic (Rose & Meyer, 2002). 

Universal Design for Learning (UDL)
Jaringan affective bertanggung jawab atas "mengapa" kita harus mepelajari ini, jaringan recognition membantu kita memperoleh mengenai "apa" yang kita akan pelajari, serta jaringan strategic memproses "bagaimana" cara kita mempelajarinya. Agar ketiga jaringan tersebut terlibat, maka guru harus melakukan 3 hal berikut: 1) untuk jaringan affective, guru harus menstimulasi mengenai mengapa mereka harus mempelajarinya, apa relevansi dalam kehidupan mereka sehingga terbangun rasa ketertarikan peserta didik pada pembelajaran dan meningkatnya motivasi belajar; 2) Untuk jaringan recognition, guru harus mampu mempresentasikan materi dengan berbagai cara untuk dapat mengakomodasi keunikan gaya belajar, potensi dan tantangan yang dimiliki setiap peserta didik; 3) untuk jaringan strategic, guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukan atau mengekspresikan apa yang telah mereka pelajari dengan cara mereka.

Universal Design for Learning (UDL)
Dalam sebuah penelitian menyarankan bahwa untuk mencapai perencanaan pembelajaran yang efektif untuk peserta didik yang beragam, maka guru harus mempertimbangkan bagaimana mengintegrasikan tiga prinsip tersebut ke dalam pembelajaran dan praktik penilaiannya (T. E. Hall, Meyer, & Rose, 2012).

Dasar dari desain universal untuk pembelajaran terletak pada keyakinan bahwa guru dan pengembang kurikulum harus mengidentifikasi dan memperbaiki hambatan belajar peserta didik melalui perencanaan pembelajaran yang efektif dengan fokus pada keterlibatan, penggunaan materi yang fleksibel, dan pembelajaran yang dapat diakses secara bermakna.

Universal Design for Learning (UDL)
2. Apa itu UDL? 

UDL adalah kerangka kerja dengan seperangkat prinsip untuk belajar dan mengajar, berdasarkan wawasan ilmiah tentang bagaimana manusia belajar sebagai upaya dalam meningkatkan serta mengoptimalkan pengajaran dan pembelajaran bagi peserta didik yang memiliki kebutuhan belajar yang beragam, termasuk, peserta didik penyandang disabilitas.

3. Tujan UDL 

a. Memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik untuk berhasil. b. Menciptakan lingkungan belajar yang menantang, bermakna dan fleksibel yang bekerja untuk semua peserta didik. c. Mengembangkan berbagai metode pengajaran untuk menghilangkan hambatan belajar d. Membantu peserta didik menjadi pembelajar yang mahir 

4. Tiga Prinsip UDL 

Center for Applied Special Technology (CAST) menjelaskan kerangka UDL melalui tiga prinsip berikut: 

1) Multiple means of engagement Menyediakan berbagai cara keterlibatan untuk mendukung pembelajaran afektif (yaitu, mengapa kita belajar): Mempertimbangkan bagaimana melibatkan peserta didik guna merangsang minat dan memotivasi dalam belajar melalui kegiatan seperti pembelajaran kolaboratif, permainan dan simulasi, nyata dan virtual.

2) Multiple means of representation Menyediakan berbagai sarana yang representatif untuk mendukung cara kita memberikan makna pada pembelajaran (menyediakan konten melalui berbagai cara, seperti diskusi, bacaan, teks digital, dan presentasi multimedia) 

3) Multiple means of action and expression Menyediakan berbagai cara yaitu berupa tindakan dan ekspresi sebagai upaya dalam mendukung cara belajar yang strategis (yaitu, bagaimana kita belajar): Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan pemahaman mereka dalam berbagai cara seperti melalui tes atau makalah, melalui seni, presentasi multimedia, dan rekaman digital.

D. Menggunakan kerangka UDL dalam merencanakan pembelajaran 

UDL merupakan kerangka kerja bagi guru dalam merencanakan pembelajaran bagi peserta didik yang beragam. Ketika guru ingin menerapkan kerangka UDL dalam menyusun rencana pembelajaran, maka guru dapat mengambil tahapan desain universal pada bidang arsitektur (Schwanke, Smith & Edyburn, 2001), serta mengimplementasikannya dalam bidang pendidikan, sebagai berikut:

1. Advokasi 

Dalam kontek desain universal untuk pembelajaran, tahapan advokasi dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi secara persuasif dalam upaya membangun kesadaran bagi semua, baik guru maupun peserta didik mengenai konsep keberagaman. Tahap advokasi ini diharapkan dapat membangun kesadaran akan adanya kebutuhan yang beragam dari setiap peserta didik, rasa saling menghargai, percaya diri dan dapat memotivasi semua agar saling bersinergi guna melakukan perubahan dalam pembelajaran untuk keberhasilan bersama. 

2. Akomodasi 

Melihat desain tangga di bawah ini, arsitektur berusaha memberikan akomodasi untuk keberagaman penggunanya. Akomodasi berupa pegangan tangan ditujukan untuk pengguna lanjut usia, jalan landai untuk mengakomodasi pengguna yang menggunakan kursi roda, dan membuat titian tangga yang tidak tinggi untuk mengkakomodasi peserta didik kecil agar mudah menggunakan tangga tersebut. Desain tangga ini pada akhirnya dapat digunakan oleh semua orang.

Universal Design For Learning (UDL)

Sebagaimana desain tangga tersebut, guru diharapkan dapat mendesain sebuah pembelajaran yang dapat mengakomodasi keberagaman peserta didik yang ada di kelasnya. Agar guru dapat memberikan akomodasi yang sesuai dengan keberagaman peserta didiknya, guru harus terlebih dahulu melakukan pemetaan mengenai keberagaman gaya belajar peserta didik, keberagaman minat, dan juga melakukan asesmen sehingga guru dapat mendapatkan profil belajar peserta didik (PBS) guna mengetahui kebutuhan belajarnya. Berdasarkan data tersebut, guru dimotivasi untuk merancang berbagai akomodasi dalam pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam.

3. Aksesibilitas 

Tahap aksesibilitas ini adalah tahapan yang paling diharapkan yaitu tahapan dimana terciptanya lingkungan belajar yang telah direkayasa dimana akomodasi dan dukungan yang guru berikan telah mengakomodasi keberagaman peserta didik, sehingga tepenuhi kebutuhan belajarnya.

Tomlinson, (1995a, 1995b) menjelaskan bahwa untuk memulai pendekatan desain universal untuk pembelajaran mengharuskan pendidik untuk memikirkan tiga aspek dalam kurikulum yaitu: konten, proses, dan produk. Konten menyangkut apa yang diajarkan atau apa yang kita ingin peserta didik pelajari, ketahui, dan lakukan. Proses menyangkut bagaimana peserta didik memahami apa yang mereka pelajari. Produk menyangkut bagaimana peserta didik mendemonstrasikan apa yang dipelajari.

Guna mengimplementasikan prinsip UDL ini dalam merancang pembelajaran, ada beberapa hal yang perlu guru lakukan yaitu:

  1. Mengenali keberagaman peserta didik.
  2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin menghambat pembelajaran.
  3. Menganalisis potensi sekolah.
  4. Menentukan tujuan pembelajaran yang jelas 
  5. Menciptakan lingkungan yang dapat memotivasi peserta didik unuk belajar, fleksibel dan melibatkan semua. 
  6. Memanfaatkan semua potensi sekolah guna menyediakan berbagai representasi sumber belajar yang variatif sehingga dapat mengakomodasi keberagaman dari peserta didik. 
  7. Memberikan kesempatan yang beragam bagi peserta didik dalam proses penilaian dengan cara megekpresikan setiap hal yang didapatkan/dipahami dalam pembelajaran.
  8. Membantu peserta didik untuk menjadi pembelajar yang mahir.
Referensi: 
Burton, Mallory (2010) Universal Design For Learning In BCUDL Legacy Of The Project. Special Education Technology – British Columbia. 

Israel, M., Ribuffo, C., & Smith, S. (2014). Universal Design for Learning innovation configuration: Recommendations for teacher preparation and professional development (Document No. IC-7). Retrieved from University of Florida, Collaboration for Effective Educator, Development, Accountability, and Reform Center website: http://ceedar. education. ufl. edu/tools/innovation-configurations. 

Katz, J. (2012). Teaching to diversity: The three-block model of universal design for learning. Portage & Main Press. 

Knarlag, K., & Olaussen, E. (2016). Developing inclusive teaching and learning through the principles of universal design. In Universal Design 2016: Learning from the Past, Designing for the Future (pp. 165-166). IOS Press. 

Quirke, M., & McCarthy, P. (2020). A Conceptual Framework of Universal Design for Learning (UDL) for the Irish Further Education and Training Sector. 

Schwanke, T. D., Smith, R. O., & Edyburn, D. L. (2001). A3 model diagram developed as accessibility and universal design instructional tool. In RESNA 2001 annual conference proceedings (Vol. 21, No. 1, pp. 205-207). Washington, DC: RESNA Press




Post a Comment for "Implementasi Prinsip-Prinsip Universal Design For Learning (UDL) Di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi"