Gambaran Pembelajaran Kelas Rangkap Yang Ideal Dan Praktek Yang Terjadi Di Lapangan 4

Table of Contents

Selanjutnya Pak Theo memanggil para ketua kelompok, baik dari ketua kelompok kelas 5 maupun ketua kelompok dari kelas 6. Mereka diberikan wacana (bahan bacaan) dan meminta agar wacana itu dibaca di kelompok masing-masing secara bergiliran. Murid kelas 6 mendapat kesempatan bercerita tentang pengalamannya saat berangkat ke sekolah tadi.

Pak Theo tersenyum dan kemudian memberi kesempatan murid yang lain untuk menceritakan pengalamannya yang lain. Kali ini Winda murid kelas 5 mendapat giliran. Winda lalu bercerita bahwa setiap hari ia harus berangkat setengah enam pagi karena rumahnya agak jauh dari sekolah dan ia harus berjalan kaki.

Selanjutnya Pak Theo memanggil para ketua kelompok, baik dari ketua kelompok kelas 5 maupun ketua kelompok dari kelas 6. Mereka diberikan wacana (bahan bacaan) dan meminta agar wacana itu dibaca di kelompok masing-masing secara bergiliran.

Apa yang harus dilakukan di dalam kelompok, telah ditulis di papan tulis oleh Pak Theo. Murid-murid diminta membaca petunjuk di papan tulis dan dipersilahkan bertanya jika ada yang belum jelas. Sementara murid membaca, Pak Theo memantau setiap kelompok dan mencocokkan jumlah murid yang hadir dengan daftar absen kelas.

Selama murid-murid bekerja, Pak Theo berkeliling mengawasi kegiatan dan memantau bila ada yang mengalami kesulitan. Beberapa saat kemudian ada murid kelas 6 yang angkat tangan dan menyatakan bahwa kelompoknya sudah selesai mengerjakan tugas bahasa Indonesia, kemudian Pak Theo meminta salah satu anggota kelompok tadi untuk membantu salah satu kelompok di kelas 5 yang sedang menyelesaikan soal matematika, dan satu murid lagi diminta membantu kelompok lain yang juga mengerjakan tugas bahasa Indonesia.

Wacana atau bahan bacaan itu bercerita tentang upaya penduduk yang membuat sebuah jembatan dari bambu secara gotong royong. Berapa jumlah bambu, tali, berapa lama waktu penyelesaian dengan sekian banyak pekerja, berapa ketinggian jembatan jika air naik sekian centimeter, berapa biaya yang diperlukan, berapa persen sumbangan masyarakat setempat, dan sebagainya, sengaja dimasukkan dalam wacana untuk materi matematika. Sedangkan untuk bahasa Indonesia, apa arti kata-kata musyawarah mewakili rumpun, curah hujan, dan sebagainya.

Waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas bahasa Indonesia dan matematika berbeda. Sementara kelas 5 masih menyelesaikan tugas matematika, pak Theo membahas tugas bahasa Indonesia, setiap kelompok mendapat giliran menjawab atau berkomentar. 

Beberapa saat kemudian murid kelas 5 juga sudah selesai mengerjakan tugas matematika. Pak Theo membahasnya dan setiap kelompok juga mendapat giliran mengerjakan di papan tulis. Murid yang lain diminta mencocokkan dengan jawaban yang benar di papan tulis.

Contoh 2 :

Seperti halnya Pak Theo, Bu Ningsih juga bertugas mengajar dengan merangkap kelas yaitu kelas 4 dan kelas 3. Kelas Bu Ningsih tampil agak berbeda dengan kelas Pak Theo. Bu Ningsih memanfaatkan sudut ruang kelas sebagai sudut sumber belajar. Di sudut itu disamping ada buku pelajaran juga ada buku bacaan, guntingan koran, kertas kosong, mainan, pensil warna dan sebagainya.

Di sudut yang lain juga ada beberapa benda yang mengesankan sebagai sudut IPA, karena ada tanaman dalam pot-pot kecil, botol-botol, kupu-kupu dan belalang yang diawetkan, gambar bagian tubuh manusia, gambar hewan dan juga gambar tumbuhan, beberapa peralatan listrik seperti lampu, baterai, kabel, dan sebagainya.

Halaman:
1  2  3  4  5

Post a Comment